Diki Wahyudi-YD2AJU merupakan pemuda asal Desa Dukuh Tengah, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes. Di usia 24 tahun, ia menjalani kesehariannya sebagai pedagang tempe dengan penuh kesederhanaan dan semangat kerja keras. Di balik aktivitas tersebut, Diki memiliki ketertarikan besar pada dunia komunikasi radio amatir, khususnya komunikasi satelit yang saat ini menjadi salah satu hobinya.
Perjalanannya di dunia radio amatir terbilang masih baru. Diki mulai bergabung dengan ORARI pada bulan Desember tahun 2025. Ketertarikannya bermula dari kebiasaannya menonton berbagai konten amatir radio di YouTube. Beberapa kanal seperti milik YB3DY dan YC2YIZ menjadi salah satu sumber inspirasi baginya. Dari situlah rasa penasaran terhadap komunikasi satelit mulai tumbuh, terutama saat melihat proses komunikasi melalui satelit yang menurutnya sangat menarik dan berbeda dari komunikasi pada umumnya.
Setelah memiliki lisensi IAR, Diki mulai serius mempelajari komunikasi satelit. Ia mencari informasi melalui media sosial dan mencoba menghubungi satu per satu penggiat satelit amatir radio. Dari perjalanan tersebut, ia dipertemukan dengan komunitas “InSpace Xplorer” dan beberapa senior AMSAT-ID yang dengan ramah membimbingnya. Salah satu sosok yang paling berkesan baginya adalah YD9UMQ yang dengan sabar membantu dan membimbingnya hingga mampu melakukan komunikasi melalui satelit secara mandiri.
Meski menggunakan peralatan yang sederhana, semangat belajarnya tidak pernah surut. Diki hanya menggunakan HT dual band serta antena cross yagi rakitan sendiri dengan biaya yang relatif terjangkau. Baginya, dunia radio amatir bukan tentang mahal atau canggihnya perangkat, melainkan tentang kemauan untuk belajar, mencoba, dan terus berkembang.
Dalam praktik komunikasi satelit, Diki juga merasakan berbagai tantangan yang membuat hobinya semakin menarik. Salah satunya adalah waktu lintasan satelit yang sangat singkat, hanya sekitar 10 hingga 13 menit dari AOS hingga LOS. Selain itu, ia juga harus memahami efek Doppler pada frekuensi UHF dengan melakukan penyesuaian frekuensi secara bertahap agar komunikasi tetap stabil. Semua proses tersebut justru menjadi pengalaman yang menyenangkan dan menambah semangat untuk terus belajar.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah saat berhasil melakukan komunikasi dengan amatir radio dari India, yaitu VU3YFD dan VU2TEK. Selain itu, ia juga pernah melakukan komunikasi dengan beberapa stasiun dari Thailand dan Malaysia. Pengalaman tersebut menjadi kebanggaan tersendiri karena bisa dilakukan hanya dengan perangkat sederhana dan semangat belajar yang konsisten.
Menurut Diki, komunikasi radio amatir masih sangat relevan hingga saat ini, terutama dalam kondisi darurat ketika jaringan internet tidak dapat digunakan. Ia percaya bahwa kemampuan komunikasi konvensional tetap penting dimiliki karena dapat membantu komunikasi saat situasi bencana atau kondisi tertentu. Dengan perangkat sederhana seperti HT dan antena sederhana, komunikasi satelit tetap bisa dilakukan tanpa bergantung pada jaringan internet.
Di lingkungan komunitas AMSAT-ID dan ORARI, Diki merasakan suasana belajar yang hangat dan penuh dukungan. Ia merasa banyak senior yang tidak pelit berbagi ilmu dan selalu membantu para pemula untuk berkembang bersama. Hal inilah yang membuatnya semakin nyaman dan semangat untuk terus mendalami dunia komunikasi satelit amatir radio.
Melalui perjalanan singkatnya ini, Diki ingin menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti belajar. Dengan niat, rasa ingin tahu, dan kemauan untuk mencoba, siapa pun tetap bisa menikmati komunikasi jarak jauh tanpa harus memiliki peralatan mahal. Semoga tulisan ini bisa menjadi penyemangat bagi diri saya sendiri untuk terus belajar dan berkembang, serta dapat menjadi inspirasi bagi teman-teman lainnya agar tidak ragu memulai hal baru dan terus berkarya sesuai passion yang dimiliki. (/2cqo)